Selasa, 11 Agustus 2015

CIRI CIRI HATI SEHAT

Bagaimana keadaan hati yang sehat?


Hati yang sehat, itulah yang akan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat kelak. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88)
“(Yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
 إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(Asy Syu’araa’ 26. 88-89)



Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah dan selamat dari syubhat yang bertentangan dengan kabar dari Allah, selamat dari penghambaan pada selain Allah, selamat dari berhukum pada selain hukum Rasulullah. Hati yang sehat juga selamat dari cinta ibadah yang menduakan Allah, dari takut ibadah yang menduakan Allah, begitu pula dari rasa harap yang menduakan Allah. Intinya, segala ubudiyah (penghambaan) hanyalah ditujukan pada Allah, itulah hati yang selamat.
 Demikian kalimat yang mendefinisikan hati yang sehat sebagaimana diuraikan oleh Ibnul Qayyim.
Dua unsur penting ini dimiliki oleh orang yang memiliki hati yang sehat.
Dalam ibadah ditanyakan 2 hal, yaitu:
 (1) Mengapa dilakukan?
Pertanyaan pertama dimaksudkan apakah motivasi yang mendorong melakukan amalan tersebut, apakah dilakukan untuk meraup keuntungan dunia, suka akan pujian manusia, takut pada celaan mereka, ataukah ingin mendekatkan diri pada Allah.

(2) Bagaimana dilakukan?
Pertanyaan kedua dimaksudkan bagaimana amalan tersebut dilakukan, apakah sesuai yang disyari’atkan Rasulullah SAW ataukah tidak.
Intinya, pertanyaan pertama tentang ikhlas dalam amalan, sedangkan pertanyaan kedua tentang ittiba’/mengikuti ajaran Rasul n.
Amalan tidaklah diterima melainkan dengan memenuhi 2 syarat ini.
Sehingga hati yang selamat dan meraih kebahagiaan adalah hati yang ikhlas dan hati yang berusaha mengikuti setiap petunjuk Rasulullah SAW dalam amalan ibadah.
Sehingga Ibnul Qayyim pun mengatakan,
فهذا حقيقة سلامة القلب الذي ضمنت له النجاة والسعادة
“Inilah (hati yang ikhlas dan ittiba’) itulah hakikat hati yang salim, yang akan meraih keselamatan dan kebahagiaan.”
 (Ighotsatul Lahfan, 1: 43).

Referensi:

Ighotsatul Lahfan fii Mashoyidisy Syaithon, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1432 H.