Bitacom |WA : 0857 1166 5051|

Selasa, 11 Agustus 2015

CIRI CIRI HATI SEHAT

Bagaimana keadaan hati yang sehat?


Hati yang sehat, itulah yang akan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat kelak. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88)
“(Yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
 إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(Asy Syu’araa’ 26. 88-89)



Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah dan selamat dari syubhat yang bertentangan dengan kabar dari Allah, selamat dari penghambaan pada selain Allah, selamat dari berhukum pada selain hukum Rasulullah. Hati yang sehat juga selamat dari cinta ibadah yang menduakan Allah, dari takut ibadah yang menduakan Allah, begitu pula dari rasa harap yang menduakan Allah. Intinya, segala ubudiyah (penghambaan) hanyalah ditujukan pada Allah, itulah hati yang selamat.
 Demikian kalimat yang mendefinisikan hati yang sehat sebagaimana diuraikan oleh Ibnul Qayyim.
Dua unsur penting ini dimiliki oleh orang yang memiliki hati yang sehat.
Dalam ibadah ditanyakan 2 hal, yaitu:
 (1) Mengapa dilakukan?
Pertanyaan pertama dimaksudkan apakah motivasi yang mendorong melakukan amalan tersebut, apakah dilakukan untuk meraup keuntungan dunia, suka akan pujian manusia, takut pada celaan mereka, ataukah ingin mendekatkan diri pada Allah.

(2) Bagaimana dilakukan?
Pertanyaan kedua dimaksudkan bagaimana amalan tersebut dilakukan, apakah sesuai yang disyari’atkan Rasulullah SAW ataukah tidak.
Intinya, pertanyaan pertama tentang ikhlas dalam amalan, sedangkan pertanyaan kedua tentang ittiba’/mengikuti ajaran Rasul n.
Amalan tidaklah diterima melainkan dengan memenuhi 2 syarat ini.
Sehingga hati yang selamat dan meraih kebahagiaan adalah hati yang ikhlas dan hati yang berusaha mengikuti setiap petunjuk Rasulullah SAW dalam amalan ibadah.
Sehingga Ibnul Qayyim pun mengatakan,
فهذا حقيقة سلامة القلب الذي ضمنت له النجاة والسعادة
“Inilah (hati yang ikhlas dan ittiba’) itulah hakikat hati yang salim, yang akan meraih keselamatan dan kebahagiaan.”
 (Ighotsatul Lahfan, 1: 43).

Referensi:

Ighotsatul Lahfan fii Mashoyidisy Syaithon, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, tahun 1432 H.







Sabtu, 08 Agustus 2015

Mempelajari Riba Di Bank Syari'ah

Video PAKAR (Paket Anti Riba)


Siapa Bilang Bank Syariah BEBAS RIBA?
Betapa menjamurnya perbankan syariah di Indonesia
Betapa giatnya penawaran modal bagi hasil yang didengungkan
Betapa antusiasnya respon pengusaha dan nasabah menyongsong penawaran mudharabah
Namun, sejatinya Apakah Anda sudah mengetahui :
1. Sudah benarkah praktik perbankan syariah menurut syariat Islam?
2. Masih Adakah Riba di Bank Syariah?
3. Bagaimana pandangan para Praktisi Perbankan, praktisi Ekonomi Syariah, dan Ulama Fikih Menanggapi Permasalahan BESAR ini??
Temukan BUKTI dan JAWABAN Pertanyaan di atas dengan memiliki Program PAKAR (Paket Anti Riba) Perbankan Syariah yang berisi Paket Penuh Ilmu dan Manfaat sebagai berikut:
1. Majalah Pengusaha Muslim edisi 24 : Masih Adakah Riba di Bank Syariah ?
2. Majalah Pengusaha Muslim edisi 25 : Bersihkan Riba di Bank Syariah
3. Majalah Pengusaha Muslim edisi 26 : Hijrah dari Riba di Bank Syariah
4. Video Seminar Nasional : Masih Adakah Riba di Bank Syariah ? menghadirkan pembicara Praktisi Perbankan, Pakar Ekonomi Syariah Nasional dan Ulama Fikih Kontemporer :
a. Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. (Doktor Fikih Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, Ulama Fikih Kontemporer Nasional)
b. Masyudi Muqorrobin M.sc, Ph.D, Akt. (Ketua Program IESP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
c. Prof. Dr. Muhamad (Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah Yogyakarta)
d. Fikri Ausyah S.E, M.Sc. (Pengawas Bank Konvensional dan Syariah Bank Indonesia Yogyakarta)
Untuk Siapa Program PAKAR Perbankan Syariah layak dikonsumsi?
a. Praktisi Perbankan Syariah
b. Pegawai Bank Syariah
c. PNS
d. Pengusaha Muslim
e. Akademisi
f. Pelajar dan Mahasiswa
g. Masyarakat Muslim pada Umumnya
Berapa Investasi yang Perlu Anda Berikan untuk Memiliki Program PAKAR Perbankan Syariah?
Untuk memiliki Program PAKAR Perbankan Syariah yang penuh ilmu dan manfaat, Anda cukup membayar senilai Rp 100.000.
Cara memiliki Program PAKAR Perbankan Syariah:
1. SMS : Pemesanan ketik Paket Video Pakar/jumlah/nama lengkap/alamat lengkap/nmr hp (wajib isi) kirim sms ke 081326333328 add Pin:2ABA93E4
email: store@yufid.com
2. Tim admin kami akan mengirimkan balasan sms tentang jumlah uang yang harus ditransfer dan rekening transfernya (toko yufid)
Ayo, SEGERA miliki Program PAKAR Perbankan Syariah , agar Anda menjadi lebih berilmu tentang Perbankan Syariah dan menjadi Pakar bagi orang sekitar Anda.

BALASAN BERBUAT BAIK

BUAH KEBAIKAN

Pada suatu hari ada seorang pemabuk yang mengundang sekelompok sahabatnya. Mereka pun duduk, kemudian si pemabuk memanggil budaknya, lalu ia menyerahkan empat dirham kepada pembantunya dan menyuruhnya agar membeli buah-buahan untuk teman-temannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanan, si pembantu melewati seseorang yang zuhud, yaitu Manshur bin Ammar. Beliau berkata, “Barangsiapa memberikan empat dirham kepadanya. Selanjutnya Manshur bin Ammar bertanya, “Doa apa yang Anda inginkan?” Lalu ia menjawab, “Pertama, saya mempunyai majikan yang bengis. Saya ingin dapat terlepas darinya. Kedua, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham untukku. Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya. Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untuk majikanku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sana.” Kemudian Manshur mendoakannya.

Pembantu itu pun berlalu dan kembali kepada majikannya yang gemar menghardiknya. Majikannya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu terlambat dan mana buahnya?” Lantas ia menceritakan bahwa ia telah bertemu sang ahli zuhud bernama Manshur dan bagaimana ia telah memberikan empat dirham kepadanya sebagai imbalan empat doa. Maka, amarah sang majikan pun redam. Ia bertanya, “Apa yang engkau mohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Saya mohon untuk diriku agar saya dibebaskan dari perbudakan.” Lantas majikannya berkata, “Sungguh, saya telah memerdekakanmu. Kamu sekarang merdeka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa doamu yang kedua?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham buatku.” Majikannya berkata, “Bagimu empat dirham. Apa doamu yang ketiga?” Ia menjawab, “Saya memohon agar AllahSubhanahu wa Ta’ala menerima taubatmu.” Lantas si majikan menundukkan kepalanya, menangis, dan menyingkirkan gelas-gelas arak dengan kedua tangannya dan memecahkannya. Lalu ia berkata, “Saya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya tidak akan mengulanginya lagi selamanya. Lalu apa doamu yang keempat?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sini.” Sang majikan berkata, “Yang ini bukan wewenangku. Ini adalah wewenang Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ketika sang majikan tidur pada malam harinya, ia mendengar suara yang mengatakan, “Engkau telah melakukan apa yang menjadi wewenangmu. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan kepadamu, si pelayan, Manshur bin Ammar, dan semua orang-orang yang hadir.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

LARANGAN MEMUTUS SILATURAHIM




Alhamdulillah washshalatu wasslamu 'ala Rasulillah.

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : "لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ" يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Jubair bin Muth‘im Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.”
(Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang memutuskan silaturahim yaitu tidak masuk surga.

Ini menunjukkan bahwasanya permasalahan adab atau akhlak adalah permasalahan yang penting.

Sebagaimana pada pembahasan yang lalu tentang keutamaan menyambung silaturahim yang diantaranya adalah bisa menyebabkan masuk surga sebagaimana yang Allāh sebutkan dalam surat Ar Ra'd.

Sebaliknya, Allāh juga menjelaskan bahwa memutuskan silaturahim merupakan salah satu sebab masuknya orang ke dalam neraka jahannam.

Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfiman:

وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

"Orang-orang yang merusak janji Allāh setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allāh perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)."
(QS: Ar-Ra'd Ayat: 25)

Ini jelas ancaman, diantara yang menyebabkan mendapat laknat dan masuk neraka jahannam adalah memutuskan tali silaturahim.

Demikan juga Allāh Subhanahu wa Ta'ala berfiman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?"
(QS: Muhammad Ayat: 22)

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَٰرَهُمْ

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allāh dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.
(QS: Muhammad Ayat: 23)

Ini ancaman yang keras juga, bahwasannya orang yang memutuskan silaturahim akan dilaknat oleh Allāh dan dibutakan penglihatan mereka dan dibuat telinga mereka menjadi tuli sehingga tidak bermanfaat bagi mereka ayat-ayat Allāh  Subhanahu wa Ta'ala.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh  Subhanahu wa Ta'ala,

Derajat menyambung silaturahim terhadap kerabat ada 3 tingkatan:

Tingkatan yang pertama adalah tingkatan yang paling afdhol, yang paling mulia, yaitu menyambung tali silaturahim terhadap kerabat yang memutuskan silaturahim.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Bukanlah penyambung silaturahmi adalah yang hanya menyambung kalau dibaikin, akan tetapi penyambung silaturahmi adalah yang tetap menyambung meskipun silaturahminya diputuskan (oleh kerabatnya)."
(HR Al-Bukhari)

Artinya, penyambung silaturahim yang sesungguhnya yaitu jika diputuskan silatrurami dia tetap menyambungnya.

Dalam Sahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,  ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahim kepada mereka namun mereka mumutuskan silaturahim kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat kejahilan kepadaku yaitu dengan mengucapkan kata-kata yang bururk."

Maka kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan maka seakan-akan engkau memasukkan debu yangpanas dimulut-mulut mereka dan senantiasa ada penolong dari Alllah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian."

Yaitu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau masukkan debu yang  panas ke mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikkan.

Ini adalah tingkat silaturahim yang tertinggi, karena menyambung silaturahim bukan untuk mendapatkan balasan kebaikkan dari kerabat tetapi karena Allāh Subhanhu wa Ta'ala dan berharap surga.

Tingkatan kedua adalah menyambung silaturahim jika kerabat berbuat baik sedangkan jika kerabat tidak berbuat baik maka dibalas dengan tidak baik juga.

Adapun tingkatan yang ketiga adalah tingkatan yang buruk dan haram yang menyebabkan masuk neraka yaitu memutus silaturahim, tidak menyambung silaturahim, cuek kepada kerabat, tidak menghubungi mereka, tidak berbuat baik kepada mereka bahkan berbuat kasar.

Maka ia telah melakukan perbuatan yang terancam dengan neraka jahannam.

Semoga Allāh menjadikan kita termasuk orang-orang yang menyambung silaturahim dan menjadikan kita orang yang bersabar seandainya ada kerabat yang berbuat buruk kepada kita.

Semoga Allāh Subhanahu wa Ta'ala memasukkan kita semua kedalam surga.

Tim Transkrip Materi BiAS

 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
🔊 Hadits ke-2 | Larangan Memutus Silaturahim